Jumat, 26 Agustus 2011

Jodoh


Kulihat jam di dinding kamarku. Menunjukan pukul  11.00 malam.  Dari tadi aku sulit sekali memejamkan mataku. Entah kenapa, sejak tadi ketemu dia bayangannya nempel  terus  di pikiranku.
Ku balikan badanku menghadap tembok, tapi tetap tak berpengaruh aku tetap tak bisa memejamkan mataku. Ku balikan lagi badanku.  Hanya tahan beberapa saat lalu aku bangun. Kenapa sih aku ingat dia terus.
Tiga tahun yang lalu  ketika pertama kali ketemu dia.  Sikapku ketus banget sama dia. Gimana nggak bikin aku keki. Tiba – tiba papa mau jodohin aku sama  Fery anak temen bisnis papa.  Dan mau melangsungkan pertunangan sebelum Fery pergi ke Australia.  Udah gitu aku belum kenal , belum pernah ketemu sama dia. Papa  berpikir usiaku sudah 23 tahun dan aku sudah lulus kuliah  sudah saatnya kalo aku punya pendamping hidup.
Suatu hari papa mengundang keluarga Fery ke rumah bermaksud untuk memperkenalkan kami berdua. Saat kami bertemu aku pasang muka jutek .  Dua hari kemudian aku buat janji dengan dia untuk membicarakan perjodohan yang orang tua kami buat.
Aku bicara sama Fery kalo aku belum mau nikah, aku  tidak setuju dengan perjodohan ini.  Dan Fery pun mengerti  dengan  penolakanku.  Akhirnya kami berdua bicara sama orang tua  masing – masing bahwa kami menolak perjodohan ini.
Setelah menolak perjodohan itu  Kami tak pernah bertemu lagi. Terakhir kabar yang ku dengar dia udah terbang ke Australia. Dan aku sudah lupa sama dia, bahkan mungkin wajahnya pun aku lupa.
Tapi tadi siang ketika aku sedang mencari buku di Gramedia. Seorang cowok menyentuh bahuku. Sesaat aku tidak mengenalnya. Tapi cowok itu menyebutkan satu nama , Fery.
Nama yang tak pernah aku ingat – ingat. Nama yang mungkin tak pernah terukir dalam ingatanku.
“Apa kabar, lama nggak ketemu?” sapanya sambil tersenyum.
“ Baik, kamu sendiri bagaimana?”
“Baik. Bagaimana kabar  keluargamu?
“Baik juga .”
“kalo gitu salam sama om dan tante.”
Aku hanya mengangguk. Seorang gadis menghampiri kami.
“kapan – kapan aku main kerumahmu ya.” Kata Fery berlalu dari hadapanku sambil merangkul bahu gadis tadi.
Aku masih terpaku ditempatku. Aku nggak menyangka bisa ketemu sama dia. Sepertinya Fery tidak berubah. Dia hanya kelihatan lebih putih.
Tiba – tiba hpku berbunyi, sebuah pesan masuk. Kuraih hpku diatas meja belajar. Ku baca pengirimnya.
Ah Fery. Ada perasaan senang dalam hatiku. Aku lupa tadi siang  sebelum berpisah Fery minta nomor hpku.
 Isinya.  Langit malam ini lebih indah dari malam kemarin. Satu bintang memberiku sinar yang paling terang.
 Bintang yang mana. Aku nggak melihat bintang yang lebih terang. Balasku.
Hp berbunyi lagi satu pesan masuk
Ternyata kamu belum tidur. Coba kamu keluar kamar. Kamu akan melihat satu bintang bersinar lebih terang dari yang lain.
Aku pun membuka jendela kamarku yang ada di tingkat dua. Ku pandangi bintang – bintang di langit. Ku perhatikan bintang – bintang itu. Tapi sinarnya biasa aja. Seperti malam – malam sebelumnya.
Hp ku berbunyi tapi nadanya panggilan masuk.
“ Halo …” sapaku.
“ Belum tidur ya” Tanya suara di seberang sana. Fery. “ lagi ngapain?”
“ lagi mandangin bintang – bintang seperti yang kamu suruh.”
“ nurut aja di suruh gitu.” katanya sambil tertawa.
“Abis aku penasaran.” Jawabku. Kami sama – sama tertawa.
“ kok belum tidur “ Tanya Fery di sela – sela tawanya.
“lagi ngerjain pekerjaan sekolah” jawabku bohong “ besok aku mau ngadain evaluasi buat murid kelas 3. Kamu ngapain belum tidur?.”
“lagi nungguin hari esok. Rasanya nggak sabar.” Jawabnya  di sebrang sana.
“Ngapain ditungguin. Nggak ditungguin juga akan datang hari esok.”
“Aku takut, kalo aku nggak bisa menyambut hari esok…..”
“Ih ngomongnya kok gitu. Kayak yang mau mati sekarang aja.”
“Bukan gitu… Karena aku yakin hari esok akan lebih cerah dari hari ini.”
 Fery tertawa pelan.” Dan lagi mikirin seseorang..”
“oh…” ada perasaan kecewa dengar jawaban Fery yang terakhir.  Aku berharap Fery lagi mikirin aku. Tapi itu gak mungkin tentu saja Fery lagi mikirin ceweknya yang tadi.
“ Ya udah, aku udah ganggu ya! Kalo gitu  met mala,  sweet dream!.”
Hubungan terputus. Ada rasa menyesal kenapa aku harus bohong. Coba kalo bicara jujur mungkin dia mau ngobrol lebih lama.
Tapi nggak apa – apa kan masih ada hari esok.
 Aku juga berharap hari esok lebih cerah dari hari sekarang.

“Bu, ada yang menjemput di depan.” Kata  pak Maman penjaga sekolah
  Siapa? Pak Maman.” Tanyaku heran perasaan hari ini aku nggak minta di jemput sama Pak udin. Lagian pak udin lagi nganter papa keluar kota.
“kurang tau, saya juga baru lihat.” Jawab Pak Maman. “Tapi katanya sudah buat janji sama Ibu.”
Aku jadi tambah penasaran.
“Ya udah. Terima kasih Pak.” Aku pun cepat – cepat membereskan  hasil ulangan siswa –siswa aku, lalu keluar kelas. Dan cepat ke tempat parkir.
Fery, aku kaget melihat dia ada di sekolah tempatku mengajar. Fery tersenyum, ketika aku berjalan ke arahnya.
“Jadi kamu yang menjemput aku.” Kataku
Fery hanya tersenyum. “Udah Siap pulang?”
Aku hanya mengangguk dengan keherananku.
“Kok kamu tau aku ngajar disini.”
“Tadi aku kerumah, mama kamu bilang kamunya belum pulang. Aku malah disuruh jemput kamu.”
“Jadi kamu udah ketemu sama mama aku.”
“Iya.”
“Kapan? “
“kemarin, ketika aku pulang dari gramedia. Mama sama Papa kamu udah ada di rumah aku.”
Kenapa mama nggak bilang kalo udah ketemu Fery. Ketika aku bilang ada salam dari fery mama sama papa dingin, dingin aja tuh. Mereka hanya nanya kapan Fery pulang dari Ausi.
“Hey, kok malah bengong.” Suara Fery mengagetkan aku.” Kita  makan siang di rumahku ya?”
“Apa?, kok di rumahmu.” Kataku heran
“Aku udah janji sama Bunda mau ngajak kamu ke rumah.”
“kok, kamu nggak nanya aku dulu.” Kataku “siapa tau aku udah makan, siapa tau aku nggak mau di ajak kerumahmu.”
“Udak keliatan kok kalo kamu belum makan.”
“Fery…..” jeritku kesal.
Fery malah tertawa keras.
 Ya Tuhan. Seperti harapanku hari ini emang lebih cerah dari hari kemarin.

Ya Tuhan. Akhir – akhir ini hari -  hari yang ku lalu sangat aneh. Banya sekali kejutan yang aku alami, apalagi mengenai Fery. Ketemu dia digramedia, telepon tengah malam, menjemput kesekolah, dan ….
Tapi aku merasa senang, ternyata Fery orangnya perhatian, baik , dewasa, sikapnya tenang, kadang – kadang dia juga romantis. Sering bikin aku ge-er. Saat bersamanya aku selalu nyaman.  Dia selalu membuatku bahagia. Dan tatapan matanya selalu membuat jantungku berdebar kencang. Setiap  malam sebelum tidur dia tidak pernah absen untuk mengucapkan “ good night, sweet dream.”  Mungkin kah aku sekarang jatuh cinta sama dia..
Kenapa sih aku dulu jutek sama dia. Kenapa sih dulu aku menolak dia. Kenapa dulu aku nggak mencoba dekat dulu sama dia. Kenapa dulu aku menolak dijodohkan dengan dia. Kalo ternyata dia orangnya asyik. Aku jadi nyesel.
Tapi  udah lah nasi udah jadi bubur. Aku nggak bisa memutar  waktu ke masa  lalu. Mungkin sekarang dia udah punya kekasih. Mungkin cewek yang ketemu di Gramedia itu adalah ceweknya. Aku jadi sedih kalo ternyata dia udah punya calon.

Kata mama hari ini mau datang tamu special. Tapi ketika ditanya sama aku, siapa yang mau datang. Mama malah bilang  “Nanti juga kamu tau” aku jadi penasaran.
“Dah siap Non?” Mama nongol dipintu kamar. “Nah gitu dong, dandan yang cantik.”
“Emangnya siapa sih yang  mau datang.” Tanyaku sekali lagi.
“Lihat aja nanti.” Kata mama sambil tersenyum
Tiba – tiba bel rumah berbunyi. Mama tampak senang.
“ Ayo cepat tamunya udah datang.” Kata mama sambil menarikku ke luar kamar.
Ku lihat papa menyambut tamu itu.  Dari belakang Sepertinya aku kenal sama tamu itu. Itukan …..
“Aduh maaf ya, Jalanan macet.” Kata bundanya Fery.
“Nggak apa – apa” kata mama sambil cipika –cipiki, sun pipi kiri sun pipi kanan sama bundanya Fery.
“Aduh  tambah cantik aja.” Bundanya fery memelukku.
Aku member salam sama papanya Fery  dan tersenyum
“Ini dia calon menantuku.” Kata papa Fery.
“Apa calon menantu ?” tanyaku dalam hati Calon menantu sejak kapan tuh. Bukankan perjodohan itu sudah batal  tiga tahun yang lalu.
Aku celingukkan mencari  fery. Apakah dia ikut juga.
“Ferynya mana ?”  kata Papa. Papa sepertinya tau apa yang ada dalam pikiranku
“ Itu di luar.”  Jawab bundanya Fery.
“Suruh  masuk “ kaka papa.
“Lagi telpon sama temannya.”
Bi Imah datang  mengatar minuman. Papa dan Papanya Fery langsung asyik ngomongin bisnis. Mama dan Bundanya Fery, juga asyik ngomongin masalah keluarga. Sementara aku sendiri hanya jadi pendengar.
Lama – lama bosan juga dengerin para bapak –bapak dan para ibu –ibu ngobrol. Sepertinya obrolan mereka nggak menarik buat aku. Fery kemana sih?  Kok lama sekali nelponnya. Pasti dari cewek yang waktu itu. Bener nggak sih itu pacar Fery.
Aku berdiri dan melangkah keluar meninggalkan para orang tua. Sampai dihalaman aku celingukan mana Fery. Kok , nggak ada . katanya tadi diluar tapi nggak kelihatan, kemana perginya tuh anak.
“hey, nyari aku ya” Fery menepuk bahuku
Aku yang lagi celingukan cari dia, kontan aja kaget .
“Ih ge-er, siapa yang nyari kamu.”
“kalo bukan nyari aku, trus cari siapa?”
“Cari Pak  Udin”  jawabku asal.
“Ngapain nyari Pak Udin?”
“bukan urusan kamu.”
“Ini pasti bohong.” Fery memandangku.
“Kata siapa aku bohong.”
“Kata mata kamu”  jawab Fery sambil senyum – senyum.
“Ih sok tau nih orang.” Kataku jutek. Sambil duduk di kursi teras rumah.
Feri pun duduk di sampingku sambil matanya terus memandangku.
Cepat – cepat aku buang muka , takut kalo Fery bisa membaca isi pikiranku. Ih emangya dia Mama Lauren bisa membaca pikiran orang.
“Tuh kan juteknya datang lagi.” Kata Feri  sambil terus memandangku.
“Kenapa ? kamu nggak suka kalo aku jutek.” Tantang aku.
“ Kata siapa ? justru itu yang bikin aku selalu rindu sama kamu.” Kata Fery menggoda aku.
“Mulai deh… gombal. Di Ausi sana kamu belajar ngerayu cewek ya.”
Yang di tanya malah senyum – senyum. Sambil terus mandang aku.
Ya Tuhan, kenapa nih anak nggak berhenti memandangi aku. Aku jadi  salting nih di pandangi terus.
“Wajar dong kalo aku ngerayu calon istri aku.” Jawab Fery
Aku kaget denger Fery ngomong gitu.
“apa? calon Istri ?”
“iya”
“Aduh, kamu jangan asal ngomong, nanti didengar sama mama  papa.”kataku sambil melihat keruang tamu.
“Siapa yang asal ngomong, aku serius.” Ujar Fery.
“Fery…”belum habis aku ngomong. Fery sudah meletakkan telunjuknya di bibirku.
“Sssst,….Denger ya….” Fery menarik napas sebentar.
” Ingat nggak dulu waktu kita sepakat untuk menolak perjodohan itu.”
Aku mengangguk.
“Waktu itu, aku nggak bilang nolak sama orang tua aku, ..” Fery cepat – cepat Meletakkan jarinya lagi dibibir ku ketika melihat aku mau buka suara
“Aku bilang sama mereka aku dan kamu  mau menunda perjodohan itu sampai aku lulus S2.”
Aku bener – bener kaget .” Fery kenapa kamu ngomong gitu. Kan kita sudah sepakat untuk ngebatalin perjodohan  itu.” Kataku sewot.
“Itu kata kamu, tapi kata aku,tidak .”
“Fery…”
“Jangan teriak – teriak .” Feri memberi isyarat agar aku mengecilkan volume suaraku.
“kamu melanggar perjanjian kita.”
“Maaf Mia,.. kalo aku melanggarnya. Aku  terlanjut menyukai  kamu,  aku tidak bisa pindah ke lain hati.  Hanya kamu yang selalu aku rindukan selama aku di Ausi. Dan aku ingin menikah dengan kamu. Titik.”
Mendengar kata – kata Fery aku hanya diam mematung. Aku bingung harus gembira atau sedih.
“Pinangan aku masih berlaku buat kamu..”aku masih diam, tak berkomentar
“Orang tuaku datang kesini untuk   melanjutkan perjodohan kita dan menentukan hari permikahan kita.”
Aku tambah kaget, aku diam tak memberi reaksi.
Ya Tuhan, aku nggak tau harus berbuat apa. Mungkin Ini jodoh yang Engkau berikan padaku. Aku nggak bisa menolak kuasamu. Walaupun sekuat tenaga aku menolak dia. Tapi mungkin dia emang Kau ciptakan untukku. aku tak kuasa untuk menolaknya. Semoga dia emang yang terbaik untukku,dan dia akan memberikan kebahagian untukku.
Melihat aku tanpa reaksi Fery jadi cemas.
“Mia…Mia…. Kamu baik – baik aja kan.” Fery mengenggam tanganku.
“Fery….”
“Iya”
“Maafkan aku , kalo….”
“Tidak .. Tidak. aku gak mau kamu menolak aku untuk kedua kalinya”
“Tapi bagaimana dengan pacar kamu..”
“Pacar? Yang mana?”
“Yang di gramedia itu”
Fery langsung tertawa “don’t  worry honey. She’s my sister”
Aku langsung kaget. Kok aku gak tau klo dia punya adik.
“ Sekali lagi. want you marry me?
“Fery, …aku mau nikah sama kamu.” Kataku terbata- bata sambil tertunduk menyembunyikan wajah aku yang merah.
“Sungguh…”Tanya Fery nggak percaya. Aku ngangguk.
“Terima kasih Tuhan,” teriak Fery.
Orang  tua ku dan orang tua Fery yang ada di ruang tamu langsung keluar mendengar teriakkan Fery.
“Gimana?” Tanya Papa kepada Fery.
Fery hanya mengangguk.
“kalo gitu, bulan depan kalian nikah.” Kata papa Fery.
“apa?” kata aku dan fery berbarengan.
Mama , papa ,bundanya Fery dan papanya Fery langsung tertawa melihat aku dan Fery kaget. Akhirnya aku dan Fery ikut tertawa.
Fery menggenggam tanganku erat. Sepertinya tak ingin di lepas lagi.
Ya Tuhan. Aku yakin Engkau memberikan yang terbaik untuk hidupku. Dan Fery adalah Jodoh pilihan –Mu untuk ku.
Terima kasih Tuhan

1 komentar: